Bismillahirrahmanirrahim..
23.30-03.00
WIB, it’s time to Solo camp. Di rundown acara Teacher Camp 2014 jam segitu
adalah waktu untuk solo camp. Bagi pemula seperti saya sebelum acara dimulai pasti
sudah berimaji liar tentang solo camp, jangan-jangan campingnya dipindah
dari gunung Bunder ke Solo (Kali Bengawan Solo) deket rumah dong #polos, atau
jangan-jangan peserta akan camping sendirian di gunung. Sepertinya akan lebih
pas dan lebih tepat kalau tanya sama ahlinya atau solusinya buka kamus bagi
yang minim berbahasa bule –seperti saya contohnya. Let’s go, cekidot.
---Solo berdasarkan hasil searching di kamus
digital bisa diartikan melakukan sesuatu secara sendirian, sedang camp diartikan
perkemahan.---
Hemm, rasa takut dan penasaran menjadi satu. Pegimane bisa
jadi satu –ya bisa dong, mungkin sudah dari sononya, yang jelas sudah
difitrahkan punya rasa takut. Bayangkan mas bro dan mbk bro camping sendirian, tengah
malem sebelum jam 12, (pegimane kalau mb k*nti terbang tepat di depan kita, ape nggak serem
tuh, atau mb k*nti melambaikan tangannya ke kita, ape harus kita beles melambaikan
tangan kita untuknya-itulah pilihan). Lupakan. Hemm takut yang lain pegimane
kalau-kalau ada trio macan, (3 bro macannya, 1 aja ngeri ape lagi 3, tapi macan
yang mana dulu, macan yang it utu –kelakuan
si kucing garong,, lho diajak dangdutan malem2 di hutan..huaaa kaburrrr).
Ini baru serius pegimana kalau keluarga ular, keluarga
macan, keluarga harimau yang datang itung-itung silaturahmi ke tenda kita.
Assalamu’alaikum, sendirian neng, aku temani yak sekalian mau curhat sama
eneng. Gini neng tadi si Tuan Ular ke
pinggir tebing nyari makanan, ternyata di sana hanya ada 1 katak yang
masuk perutnya. Di waktu yang sama Tuan Macan juga pergi nyari makan, alhasil Tuan
Macan dapet 2 ekor ayam hutan yang gemuk-gemuk. Tak selang dalam waktu yang
lama Tuan Ular dan Tuan Macan menemui saya dan bercerita kalau perutnya masih
kelaparan neng, tapi pegimana ya neng saya sendiri juga kelarapan belum makan
seharian, coba sini neng mendekat pegang perut saya….*&^*(@@ HUuuuaaaaammm,
belum sempat pegang perut Harimau, udan dicaplok dulu. #imajinasi konyol. Rehat
dulu sebelum dibagunkan panitia.
Malam yang dingin, seperti tepat pukul 23.30. Tujuh orang
dalam bivak yang gelap. Beralaskan matras dan di kelilingi parit 5x3 cm. Suara
peluit dan gemerlap lampu senter yang dimaikan seperti lampu disko membangunkan
tidur kami dari gendongan mimpi-mimpi. Bergegas
dan optimisme menjadi senjata terapuh malam itu. Jadi teringat kalau saya
sedang tidak camping boro-boro bergegas, bagun aja ndak, paling miring kanan
atau kiri lanjut tarik selimut --parah. Dengan beberapa bekal perlengkapan kami
pun melaju ke sumber cahaya disko. Beberapa saja tidak lebih dan tidak kurang. Hanya
berbekal matras, lampu senter/headlamp, bolpoint, kitab suci, dan jas hujan. Sempat
berfikir dan berharap jahat malam itu hujan, karena saya tidak membawa botol
minum, ketika dahaga melanda tinggal mangap ke atas.
Lapangan Camping Ground menjadi titik kumpul peserta dan
panitia sebelum berangkat. Pengecekan peserta dan segala perlengkapan tak luput
dari sorot kamera, lohh dikira lagi syuting -pengecekan panitia keleess. Alat komunikasi
dan dokumentasi pun dikumpulkan. Antisipasi bagus dari panitia, jangan sampai waktunya
solo camp malah main facebookan atau twitteran lanjut update
statusnya –lagi uji nyali ni di gunung, ada yang mau ikut atau –beeerrrr dinginnya
hawa gunung dan terakhir di like sendiri –ini saya bingauw. Atau (cekkrikk.ceekrrik..cekrikk)
ambil foto w/ kakak k*nti, assyik udah mirip belum prendd sama mb k*nti,,hiiiii.
Atau bisa jadi buka youtube searching film “Insidious”, “MAMA 2013”,
atau “Evil dead” full movie, atau bagi kaum melow seperti saya searching film
lawas yang romantic “AADC” atau film2 korea yang lagi in “Pinokio”..huuuaaa ngayal
banget mane ade sinyalnya tengah malem gitu, bentar yang jadi pokok masalah sekarang
ada pulsanya kah? Dan mau buka pake gadget yang mana bu?. Terbangun dari
tebakan ngawaur alias asal-asalan, disela-sela pemeriksaan panitia menyampaikan
kalau saat solo camp silahkan banyak merenung selayaknya seorang filosof. Solo camp
akan memberikan banyak pelajaran. Jangan lupa ambil wudu, karena kita –panitia dan
peserta- tidak akan tau kejadian selajutnya saat di atas sana. Tak lupa panitia
menyisipkan cerita-cerita misteri yang sontak membuat bulu kuduk berdiri. Pernah
suatu hari kejadian saat solo camp ada peserta malah tidur bukannya merenung,
esok harinya, ketika terbangun peserta tsbt sudah dipindahkan ke tempat lain —dan
seketika kami pun –peserta-- percaya dan
takut bukan kepayang.
Perjalanan dimulai, gelap, sepi, dan tanjakan menjadi teman
perjalanan. Riuh peserta pun dibatasi
dengan kode agen rahasia, 1.1 yang artinya peserta kelompok satu, no. 1 (sesuai
kesepakatan siapa yang ditunjuk), dsb sampai kode terakhir 9.7. Medan yang terjal membuat kami sedikit
ngap-ngapan, beruntung kelompok pertama tempat solo camp-nya tidak di atas. Saat
itu pula perasaan kami kembali bercampur, antara syukur dan takut. Syukur karna
perjalanan kami cukup sampai dititik pemberhentian tersebut, takut karna
selepas berhenti dari perjalanan
tersebut kami akan segera bertarung dengan gelap sendirian. Suara hentakan
sepatu lambat laun semakin lama semakin menghilang. Barisan cahaya headlamp
semakin lama tak beraturan hingga ke berbagai ujung. Sempat dalam perlajalanan
malam itu saya menengok ke belakang, melihat barisan lampu-lampu yang apik. Cahaya
lampu itu memberikan kekuatan tersendiri bagi jiwa-jiwa yang akan bertempur,
terutama saya. Bertempur melawan gelap, kantuk, dan sunyi. Rasanya tenang saat
melihatnya. #bolehlah sedikit mendramatisir untuk melawan takut.
Singkat cerita dalam waktu 3 jam itu, saya hanya sendiri,
berbicaranya pun sendiri, dan menulispun sendiri. Waktu itu belum sempat untuk
menengok kanan—kiri , depan—belakang, dan ke atas. Saat itu hanya fokus dengan
bolpoint dan dua lembar kertas. Tapi sontak saya beranikan diri melihat
disekeliling, ternyata di belakang ada teman saya, di depan juga ada teman
saya, di ujung kiri hanya ada gelap, dan di ujung kanan ada teman saya. Setidaknya
sedikit lega. Merenung dan menuliskan
tentang sebuah perjalanan masa laluku, aku di masa kini, dan masa depanku. Cukup.
Lawan dan lawan rasa takutmu. Tulis dan teruslah menulis abaikan disekitarmu,
ikhlaskan apapun yang akan terjadi. (Teppplokkk) seekor laba-laba jatuh tepat
di atas kertas yang sedang saya coret-coret. (Seeerrrrr) hati pun berdebar tak
karuhan. (Dug,dig,dag,dig,dug,dug,dug..200x). Kontrol emosi dan tetap stay cool.
Tak berselang lama atraksi lain datang (wwhussshh,,kreseg,,kreseg) ada serangga
terbang dan berlenggak-lenggok di atas kertas. Kejadian yang kedua ini, membuat
saya mati gaya. Segera saya lempar kertas dan bolpent, ambil Al qur’an lalu –ngaji.
Alhamdulillah angin sedikit bersahabat, yang awalnya membolak-balikkan lembaran
kitab, lambat laun setelah mengaji semakin menenangkan. Baru beberapa lembar
mengaji, kantukpun menyerang. Teringat kata-kata panitia, kalau ada yang
tertidur bisa jadi esok hari ketika bangun tau-tau bakal beda tempat. Huaa. Cahaya
senterpun semakin lama semakin redup. Ambil resiko yang paling besar
seakan-akan lampu senter mati dan tidak ada cahaya yang menemani, matikan lampu
senter, lalu rapikan matras, dan selanjutnya baca doa mau tidur. Aamiin. #sebelum panic karena lampu senter
mati sebaikknya matikan senternya dengan sengaja, lalu beraktivitaslah dengan
kegiatan yang tidak menggunakan cahaya lampu senter #konyol.com. (Tiiiduuuurrr
dan bangun sampai ada yang membangunkan).

Komentar
Posting Komentar